Sabtu, 22 Februari 2014

No Need Tutorial for Hijab Shar’e



Wahai saudari muslimah, kenapa sih suka banget pake jilbab yang modelnya aneh-aneh n nyentrik? ada yg jilbab pocong, jilbab kecekek, jilbab punuk onta, jilbab ninja, sampai jilbab dengan nama artis yg dibubuhi kata ‘style’ dibelakang nama artis tersebut. Udah gitu pakenya juga ribet lagi, sampai butuh tutorial segala. liat aja deh tuh di youtube banyak banget tutorial cara pake jilbab(sebenernya sih kerudung). 

Dulu memangnya istri-istri Rasulullah ngajarin ya cara pakai jilbab yang macem-macem? 
Yang mereka -radhiallahu’anhunna- ajarkan itu cara berhijab dengan benar, bukan modelnya. 
Hijab yang syar’i itu simple, sesuai dengan fitrah wanita, jadi ga perlu diajar-ajarin lagi..

Masih banyak kalangan akhwat belum memahami bagaimana seharusnya memakai pakaian Islam seperti jilbab. Kalaupun mereka telah mengetahui cara memakai jilbab yang sebenarnya, ada rasa enggan untuk menjalaninya. Entah itu dianggap sebagai orang Islam yang fanatik, fundamental, radikal, teroris dsb. Hal ini memang cukup berat untuk dilaksanakan oleh kaum akhwat bila tidak diiringi dengan keimanan dan ketakwaan yang mantap.
 
Dalam ajaran Islam, jilbab bukanlah selembar kain tanpa makna, ia adalah selembar kain yang dililitkan ke kepala dan dikudungkan ke dada dan tidak memperlihatkan perhiasan yang ada pada diri seorang perempuan, kecuali muka dan telapak tangan. Jilbab merupakan hijab bagi seorang muslimah, ia menjadi pembeda dan menjadi identitas untuk menunjukkan eksistensi seorang muslimah di manapun ia berada. Jilbab bukan trend atau pakaian semusim.
.  
Untuk yang baru saja berhijab, saya ucapkan selamat, Anda telah melakukan transaksi yang menguntungkan untuk dunia dan akhirat anda, dan saya do’akan semoga tetap istiqomah untuk senantiasa mengenakan hijabnya, tidak tergoda dengan dandanan dan style kebanyakan wanita dewasa ini yang semakin ga karuan. Tapi yang perlu ditekankan di sini, hijab itu fungsinya untuk menutupi ‘perhiasan’ anda, bukan malah dijadikan sebagai hiasan. Wajah, rambut, lekuk tubuh, sikap yang genit, dan harumnya parfum, itulah perhiasan anda. Jika dulu sebelum berhijab anda memakai gaya rambut yang menurut anda anggun dan cantik untuk tebar pesona dan menarik perhatian orang, kemudian saat berhijab anda juga melakukan hal yang sama (yaitu mengenakan hijab yang dihias-hias, baik dengan modelnya, warnanya, atau aksesorisnya). Lantas apa bedanya? itulah yang dinamakan dengan tabarruj yang dilarang dalam Islam.

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.” (QS.Al-Ahzab: 33)

 


Hijab mendekatkanmu dengan syariat | penanda Muslimah yang taat.

Hijab membuatmu menarik karena iman | bukan cantik karena badan.

Hijab bukan terletak pada harga dan gaya | melainkan terletak pada sah dan syara’.

Hijab syar’i bukan memasung kebebasan Muslimah untuk berekspresi | namun jelas membatasi kenakalan lelaki dalam berimajinasi.

Semakin sederhana hijabmu | tanda mumpuni pemahamanmu.

Selembar kain penutup kepala sampai ke dada | tanpa belitan, tanpa transparan, tanpa surban, tanpa temali | taat itu sederhana.

Karena hijab bukan pengganti riasan rambut | yang telah ditutupi lalu harus dikompensasi hiasan lainnya.

Rumit itu sulit | but simple is adorable. (Felix Siauw)

Ingin tahu jilbab yang ideal dan benar-benar syar’i seperti apa? cek http://www.konsultasisyariah.com/apaka-batasan-jilbab-syari/ 

Sumber : 
http://mahdiy.wordpress.com/tag/hijabers/
http://www.islampos.com/

Selasa, 04 Februari 2014

PERKARA ANEH


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ade Sudaryat

Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Asqalani dalam karyanya Nashaihul ‘Ibad (hal 42) mengutip sebuah hadis tentang keanehan yang akan menimpa umat Islam. Menurut Rasulullah SAW, jumlahnya ada enam perkara.

Pertama, masjid menjadi bangunan yang aneh. Bangunan masjid berdiri megah, dibangun dengan susah payah, dan berada di tengah-tengah perkampungan yang padat penduduknya. Namun, orang-orang di perkampungan itu enggan melaksanakan ibadah shalat di masjid.

Kedua, mushaf Alquran menjadi perkara aneh. Orang-orang berlomba-lomba mengoleksi Alquran di rumahnya. Mereka membeli Alquran dengan model terbaru, berharga mahal, namun setelah berada di rumah, Alquran hanya menjadi simbol kebanggaan.

Kitab suci ini dipajang di rak dan jarang sekali dibaca, apalagi dihayati makna dan kandungannya. Ketiga, banyak orang berlomba-lomba menghafal Alquran, tetapi sedikit sekali orang yang berlomba-lomba mengamalkan isi dan kandungannya.

Keempat, aneh sekali banyak wanita salihah yang bersuami laki-laki yang tidak taat dalam melaksanakan ajaran agama. Kelima, aneh sekali, banyak laki-laki saleh yang beristri wanita yang tidak taat beragama.

Dan keenam, aneh sekali, orang alim (yang memahami ilmu agama) berada di tengah-tengah masyarakat, namun masyarakat sudah enggan lagi mendengar fatwa-fatwanya. Petuah-petuahnya hanya dijadikan tontonan bukan dijadikan tuntunan.

Sementara itu, Imam Ghazali dalam karyanya Minhajul ‘Abidin (hal 16) mengutip sabda Rasulullah SAW yang disampaikan kepada Haris Ibnu Umairah.

Jika umurmu panjang, kamu akan menghadapi suatu zaman yang aneh. Pada zaman tersebut akan banyak ahli pidato yang piawai dalam menyampaikan pidatonya, namun sangat sedikit sekali dari kalangan mereka yang benar-benar ulama (memahami ilmu agama dan hatinya takut kepada Allah). Pada zaman tersebut akan banyak sekali orang yang memerlukan bantuan (banyak orang miskin), namun sangat sedikit sekali orang yang mau menolong mereka, dan pada zaman tersebut keikhlasan dalam mencari ilmu sudah sirna. Orang-orang mencari ilmu hanya mengikuti keinginan hawa nafsu belaka.

Harits ibnu ‘Umairah merasa heran, kemudian ia bertanya, “Ya Rasulullah, kapan hal tersebut akan terjadi?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Nanti apabila ibadah shalat telah dimatikan (orang-orang tidak mengaplikasikan nilai-nilai ibadah shalat dalam kehidupan sehari-hari), menjamurnya suap-menyuap (jual beli hukum dan jabatan), serta orang-orang telah rela menjual agama demi kesenangan hidup di dunia semata. Jika keadaan tersebut sudah terjadi maka selamatkanlah dirimu.”
Mari kita perhatikan dan renungkan perkara-perkara aneh tersebut, sudahkah terjadi di sekitar kehidupan kita? Jika sudah, tak ada jalan terbaik bagi kita selain menyelamatkan diri kita masing-masing.

Caranya adalah dengan melakukan amar makruf nahi munkar, semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menjalankan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.  “Umatku tak akan sesat selamanya, manakala ia benar-benar berpegang teguh kepada kitabullah dan sunah-sunahku.’’ (HR al-Hakim).

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/01/31/n08e4a-perkara-aneh

Minggu, 02 Februari 2014

Keutamaan Mengkhatamkan Al-Qur’an


Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

Generasi sahabat dapat menjadi generasi terbaik (baca; khairul qurun) adalah karena mereka memiliki ihtimam yang sangat besar terhadap Al-Qur’an. Sayid Qutub dalam bukunya Ma’alim Fii Ath-Thariq menyebutkan tiga faktor yang menjadi rahasia mereka mencapai generasi terbaik seperti itu.
Pertama karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber pegangan hidup, sekaligus membuang jauh-jauh berbagai sumber-sumber kehidupan lainnya. 
Kedua, ketika membacanya mereka tidak memiliki tujuan-tujuan untuk tsaqafah, pengetahuan, menikmati keindahan ataupun tujuan-tujuan lainnya. Namun tujuan mereka hanya semata-mata untuk mengimplementasikan apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan mereka.  
Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliyah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran ataupun kebudayaan.

Tilawatul qur’an; itulah kunci utama kesuksesan mereka. Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Usahakan agar Anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz per hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari.”

Keutamaan Membaca al-Qur’an

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi memaparkan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan membaca Al-Qur’an. Di antaranya:

1. Akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.
Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

2. Mendapatkan predikat insan terbaik.
Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi)

3. Mendapatkan pahala akan bersama malaikat di akhirat, bagi yang mahir mambacanya.
Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Mendapatkan pahala dua kali lipat, bagi yang belum lancar.
“Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim)

5. Akan diangkat derajatnya oleh Allah
Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah saw. bersabda,: “Sesungguhnya Allahswt. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)

6. Mendapatkan sakinah, rahmat, dikelilingi malaikat, dan dipuji Allah di hadapan makhluk-Nya.
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketengangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)

Keutamaan mengkhatamkan al-Qur’an

a. Merupakan amalan yang paling dicintai Allah
Dari Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

b. Orang yang mengikuti khataman Al-Qur’an, seperti mengikuti pembagian ghanimah
Dari Abu Qilabah, Rasulullah saw. mengatakan, “Barangsiapa yang menyaksikan (mengikuti) bacaan Al-Qur’an ketika dibuka (dimulai), maka seakan-akan ia mengikuti kemenangan (futuh) fi sabilillah. Dan barangsiapa yang mengikuti pengkhataman Al-Qur’an maka seakan-akan ia mengikuti pembagian ghanimah.” (HR. Addarimi)

c. Mendapatkan doa/shalawat dari malaikat
Dari Mus’ab bin Sa’d, dari Sa’d bin Abi Waqas, beliau mengatakan, “Apabila Al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bersalawat (berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bershalawat/ berdoa untuknya hingga sore hati.” (HR. Addarimi.)

d. Mengikuti sunnah Rasulullah saw.
Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sunnah Rasulullah saw. Hal ini tergambar dari hadits berikut: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.” Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.” Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.” “Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku. (HR. Tirmidzi)

Waktu mengkhatamkan Al-Qur’an

a. Keutamaan waktu yang dibutuhkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an
Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah saw., beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus malarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan batasan waktu paling minimal dalam membaca Al-Qur’an. Karena dalam hadits lain terkadang beliau membatasi hanya boleh dalam 5 hari, dan dalam hadits yang lain dalam tujuh hari. Maka dari sini dapat disimpulkan, batasan paling cepat dalam mengkhatamkan Al-qur’an adalah tiga hari.

b. Larangan untuk mengkhatamkan kurang dari tiga hari
Hadits di atas juga mengisyaratkan larangan Rasulullah saw. untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Hikmah di balik larangan tersebut, Rasulullah saw. katakan dalam hadits lain sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amru, beliau mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan dapat memahami/menghayati Al-Qur’an, orang yang membacanya kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud)

c. Rasulullah saw. tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam
Dari Aisyah ra, beliau mengatakan, “Aku tidak pernah tahu Rasulullah saw. mengkhatamkan Al-Qur’an secara keseluruhan pada malam hingga fajar.” (HR. Ibnu Majah)

Sunnah dalam teknis mengkhatamkan Al-Qur’an

Adalah Anas bin Malik, beliau memiliki kebiasaan apabila telah mendekati kekhataman dalam membaca Al-Qur’an, beliau menyisakan beberapa ayat untuk mengajak keluarganya guna mengkhatamkan bersama.
Dari Tsabit al-Bunnani, beliau mengatakan bahwa Anas bin Malik jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam hari, beliau menyisakan sedikit dari Al-Qur’an, hingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya dan mengkhatamkannya bersama mereka. (HR. Darimi)

Hikmah yang dapat dipetik dari hadits Anas di atas, adalah bahwa ketika khatam Al-Qur’an merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah. Dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, akan dapat memberikan berkah kepada seluruh anggota keluarga. Karena, semuanya berdoa secara bersamaan kepada Allah mengharapkan rahmat dan berkah dari-Nya.

Kiat-Kiat Agar Senantiasa Dapat Mengkhatamkan Al-Qur’an

Ada beberapa kiat yang barangkali dapat membantu dalam mengkhatamkan Al-Qur’an, di antaranya adalah:

1. Memiliki ‘azam’ yang kuat untuk dapat mengkhatamkannya dalam satu bulan. Atau dengan kata lain memiliki azam untuk membacanya satu juz dalam satu hari.

2. Melatih diri dengan bertahap untuk dapat tilawah satu juz dalam satu hari. Misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan setengah juz, baik pada waktu pagi ataupun petang hari. Jika sudah dapat memenuhi target, diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali membaca.

3. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an yang tidak dapat diganggu gugat, kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat penting. Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya setiap hari. Waktu yang terbaik menurut penulis adalah ba’da subuh.

4. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita. Lebih baik lagi jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil, yang meringankan lisan kita untuk melantunkannya. Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan ketika membacanya.

5. Usahakan untuk senantiasa membersihkan diri (baca: berwudhu’) terlebih dahulu sebelum kita membaca Al-Qur’an. Karena kondisi berwudhu’, sedikit banyak akan membantu menenangkan hati yang tentunya membantu dalam keistiqamahan membaca Al-Qur’an.

6. Membaca-baca kembali mengenai interaksi generasi awal umat Islam, dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dari segi tilawah, pemahaman ataupun pengaplikasiannya.

7. Memberikan iqab atau hukuman secara pribadi, jika tidak dapat memenuhi target membaca Al-Qur’an. Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal surat tertentu, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kondisi pribadi kita.

8. Diberikan motivasi dalam lingkungan keluarga jika ada salah seorang anggota keluarganya yang mengkhatamkan al-Qur’an, dengan bertasyakuran atau dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah.

Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sifat Rasulullah, para sahabat, salafuna shaleh, dan orang-orang mukmin yang memiliki ketakwaan kepada Allah. Seyogyanya, kita juga dapat memposisikan Al-Qur’an sebagaimana mereka memiliki semangat, meskipun kita jauh dari mereka.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (An-Ankabut: 69).

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/04/17/158/keutamaan-mengkhatamkan-al-quran/#ixzz2s9WpoDlA

Rahasia Menikmati Qiyamul Lail hingga Batu dan Permata Terlihat Sama

dakwatuna.com –

Seorang tabi’in berkata, “Sungguh jika tiada sepertiga malam terakhir, aku tidak betah hidup di dunia ini”. Mereka benar-benar mereguk kenikmatan tiada tara saat berkhalwat dengan Tuhannya. Namun mengapa kita belum bisa merasakannya?

Berbagai keutamaan qiyamul-lail sudah kita baca atau kita dengar dari para ulama. Kita pun sudah beberapa kali mencoba melaksanakannya, dengan mujahadah (kesungguhan) melawan kantuk dan dinginnya malam. Namun, berkali-kali juga kita mengalami futur (lalai), tidak dapat lagi melaksanakan qiyamul-lail.
Maklumat dan pemahaman perihal keutamaan Qiyamul-Lail sudah sama-sama mafhum. Jika belum silakan googling saja dengan keyword “qiyamul lail”, atau mampir toko buku maka akan kita jumpai puluhan buku tentang keutamaan qiyamul-lail. Namun mengapa demikian berat untuk taf’il (melaksanakan) Qiyamul Lail tersebut?

Menurut saya, sebabnya adalah karena kita belum dapat menikmatinya. Sehingga pikiran bawah sadar kita masih merasakan bahwa qiyamul-lail itu beban yang berat.

Waktu sepertiga malam, saat dimana bumi mengeluarkan gelombang kekhusyu’an (alfa), sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (Al-Muzammil 6). Seharusnya, saat-saat inilah dzikir dan bacaan Al-Quran kita lebih berkesan, hati lebih mudah bergetar ketika Asma Allah disebut. Jiwa kita lebih bening sebening embun pagi di dedaunan. Air mata lebih mudah meleleh bahkan tertumpah dan tak kuasa kita hentikan. Hati menjadi halus dan lembut, sehingga hijab kita dengan Allah semakin transparan. Pendeknya inilah surga dunia yang telah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan salafus saleh. Maukah kita memperolehnya?

Mengapa kita belum bisa menikmati Qiyamul Lail? Mungkin karena kita kurang “Mujahadah” (memaksakan diri). Ya, betul… Namun bukan itu maksud saya. Bisa jadi pada waktu-waktu yang lalu kita sudah mujahadah, namun lagi-lagi giliran futur itu datang.

Kita sulit qiyamul-lail dan hati kita mati karena kita masih melakukan banyak maksiat dan dosa. Bukankah maksiat dan dosa akan menimbulkan noktah hitam di hati hingga hati kita menjadi kasat dan mati. Doa yang kita panjatkan tidak di istijabah oleh Allah SWT. Ya, betul sekali, sangat tepat…! Tapi saya ingin berangkat dari perspektif lain.

Perspektif lain itu adalah, kita tidak dapat menikmati qiyamul-lail, dan masih banyak melakukan maksiat adalah karena “kita belum mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT”. Hati kita masih diisi oleh selain Allah, masih jauh dari Allah.

Mari pertama-tama kita niatkan dan azzamkan diri kita bahwa kita sangat ingin untuk taqarrub mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah bersabda, ‘Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kalau ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Kalau ia mengingat-Ku di tengah kerumunan orang, Aku pun akan mengingatnya di tengah kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Kalau ia mendekat diri kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekatkan Diri kepadanya sehasta. Kalau ia mendekatkan diri pada-Ku sehasta. Aku pun akan mendekatkan Diri padanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil”.

Waktu-waktu di keseharian kita, masih sunyi dari dzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang duduk dalam suatu tempat, lalu di situ ia tak berdzikir kepada Allah, maka kelak ia akan mendapat kerugian dan penyesalan” (HR Abu Dawud). Dalam keseharian kita, di ketika mandi, di perjalanan kantor, istirahat, hati dan pikiran kita tidak dzikir kepada Allah dan lantas diisi oleh selainnya. Bahkan! bangun tidur kita lupa berdoa, masuk dan keluar kamar mandi lupa berdzikir, selesai makan lupa memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Astaghfirullah… beristighfarlah berulang kali saudaraku. Rasakanlah penyesalan dan biarkan air matamu meleleh…

Mulai detik ini isilah setiap relung hati dan celah pikiran dengan dzikir kepada Allah. Di setiap waktu dalam 24 jam hidup kita isilah dengan dzikir. Jika kita melakukannya, bahkan dalam tidur pun kita tetap bermimpi berdzikir dan bershalawat. Banyak dzikir-dzikir singkat, seperti dua kalimat yang paling berat di sisi Allah, yaitu, “SubhanaLlahi wabihamdihi… SubhanaLlahil-azhiem…”. Atau dengan beristighfar, “Astaghfirullah… astaghfirullah…”, bertasbih, “Subahanallahi… subhanallahi”. Bahkan cukup dengan menyebut asma Allah, “Allah… Allah… atau Yaa Allah.. Ya Allah”. Lakukanlah di manapun, dan kapan pun, bahkan multitasking sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari. Jika ada waktu senggang, dzikir yang paling utama adalah Al-Quran. Membaca Al-Quran, mentadabburinya, menghafalnya, mengulang hafalan atau bahkan sekadar mendengarkan kaset murattal Al-Qur’an sambil kita mengendarai kendaraan.

Dzikir ini akan mengikis dosa dan kotoran jiwa, seperti mengikis karat hingga kemilau emas muncul kembali. Dengan sendirinya, dzikir akan mencegah kita berbuat dosa dan maksiat lagi. Ketika kita akan berbuat sesuatu yang dilarang Allah, hati yang telah dipenuhi Asma Allah akan otomatis menolaknya.
Dzikir akan semakin menghaluskan hati kita. Semakin memudahkan kita menangis dalam berbagai kondisi. Semakin memahami hakikat dan semakin ma’rifat kepada Allah.

Suatu ketika ada sekelompok sahabat yang telah mengalami kehausan karena kehabisan minuman dalam perjalanan safar berhari-hari. Ketika mereka menemukan sebuah sumber air, segera mereka minum dan membasahi muka sepuas-puasnya. Namun ada seorang sahabat yang justru ketika ia akan mengambil air ia menangis sesenggukan. Sahabat lain pun bertanya, “Mengapa engkau menangis padahal Allah memberikanmu minuman pada saat kehausan?”.

Sahabat tersebut berkata, “Ketika aku membaca doa “Allahumma bariklana fii maa razaqtana waqina adzabannaar”, terbayang olehku penduduk neraka yang lebih haus dariku namun diharamkan padanya meminum air sedikit pun. Firman Allah: “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (Al-A’raaf: 50). Subhanallah, sahabat tersebut mampu menangkap hakikat kalimat “waqina adzabannar” dalam doa mau makan dan minum, karena ia selalu berdzikir mengingat Allah.
 
Jika dalam setiap tarikan nafas kita selalu berdzikir, dalam setiap langkah kita diikuti dengan dzikir, maka akan muncul banyak keajaiban dalam hidup kita. Allah akan mengaruniai limpahan kenikmatan yang menisbikan kenikmatan dunia. Barulah kita bisa memahami kisah dalam hadits berikut :

Diriwayatkan bahwa Haritsah RA berkata kepada Rasulullah SAW, “Pagi ini, saya menjadi mukmin yang sebenarnya”. Beliau berkata kepadanya, “Seorang Mukmin yang benar itu memiliki hakikat. Lantas apa hakikat dari keimananmu?” Ia menjawab, “Saya jauhkan diriku dari dunia, hingga di mataku BATU dan PERMATA terlihat sama….”
Subhanallah… batu dan permata terlihat sama. Espass dan Alphard terlihat sama!
Kita lanjutkan haditsnya:
“… Saya seakan-akan melihat singgasana Tuhanku tampak nyata. Saya seakan-akan melihat penduduk surga bersenang-senang di dalam surga dan penduduk neraka disiksa di dalam neraka.” Beliau SAW berkata, “Hai Haritsah, kamu telah mengetahuinya. Karena itu, istiqomahlah”. Inilah mungkin yang dalam tasawuf disebut “Kasyaf”.

 Saudaraku, mari hidupkan hati, lembutkan jiwa dengan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Barulah kita bisa menikmati indahnya dan nikmatnya Qiyamul Lail. Berikutnya kita akan merasakan berbagai kenikmatan spiritual dan ayat-ayat keajaiban Allah dalam hidup kita.
Mari penuhi hidup kita dengan dzikir, dan perhatikan apa yang akan terjadi. []

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/11/09/4656/rahasia-menikmati-qiyamul-lail-hingga-batu-dan-permata-terlihat-sama/#ixzz2s959LaGV

Sabtu, 01 Februari 2014

Tujuh Cara Bersahabat dengan Al-Quran

Ilustrasi. (Foto: olx.com.my)
Ilustrasi. (Foto: olx.com.my)

dakwatuna.com -  

“Bacalah Al-Quran karena dia akan datang memberi syafaat kepada para sahabatnya”. (HR Muslim)

Saat tak ada tempat bernaung dan pembela di hari yang maha sulit, ketakutan dan ketegangan melilit, azab neraka siap menggigit, Qur’an akan datang tanpa sulit dan rumit memberi syafaat di hari berbangkit kepada para sahabatnya pengikut Rasul pembawa risalah langit.

Inilah 7 cara yang harus kita gamit:

1. Imani
 Yakin bahwa Qur’an adalah kitab yang turun dari Allah sebagai pedoman hidup. Tanda kita mengimani Qur’an di antaranya dibaca, dijadikan rujukan pertama dalam setiap masalah, jadikan sebagai hakim jika ada perselisihan.
Dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 121, Allah berfirman:
“Orang-orang yang telah kami beri kitab, mereka membacanya dengan sebenarnya, mereka itulah orang yang beriman kepadanya (Al-Quran) dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, mereka itulah orang yang merugi.” (Haqqo tuqootih= membaca dengan sebenarnya, memahami dan mengamalkannya)

2. Baca 
 Setiap hari jadikan membaca Qur’an sebagai kebiasaan yang turun temurun menjadi budaya yang mendarah daging. Serasa ada yang kurang jika belum baca Qur’an dalam sehari. Seperti kebiasaan makan dan minum. Sudah otomatis, ini adalah makanan ruhani.

 
3. Mempelajari tajwidUntuk menghasilkan bacaan Qur’an yang baik, sebagai bentuk memuliakan kitab Suci, maka wajib membaca nya dengan tajwid yang benar, makhraj dan hukum-hukumnya agar kita membacanya sesuai dengan haknya, karena Qur’an  diturunkan dengan bahasa Arab, maka kita wajib membacanya seperti lidah orang Arab. (Yusuf: 2)

4. Mentadabburi
 Berusaha memahami kandungannya, menikmati iramanya, untaian kata yang indah hikmah dan rahasia dari setiap huruf, pilihan kata dan ayatnya.

5. Menghafalnya dan muraja’ah
Supaya tertancap di dada, menjadi cahaya menerangi hati, inner beauty kecantikan dari dalam. Jadi teman kala sendiri, dalam perjalanan, dalam tahajjud, supaya hafalan senantiasa terjaga tidak gampang lupa.

6. Mengamalkannya
Ibnu Abbas didoakan Rasulullah supaya jadi ahli tafsir, memahami Al Qur’an, menyingkap rahasianya. Jadi orang yang paling paham Qur’an setelah Nabi.  Suatu hari datang tiga orang tamu dari tiga kota yang berbeda. Mereka mengadukan berbagai masalah kepada Ibnu Abbas.

Orang pertama mengadukan kampungnya yang kekeringan hingga banyak tanaman dan binatang yang mati dan penduduk yang terancam kelaparan. Lalu Ibnu Abbas menjawab: Istighfarlah!
Orang kedua datang dari dusun yang jauh minta dikaruniai keturunan. Jawab Ibnu Abbas: Istighfarlah!
Orang ketiga datang dengan masalah kekurangan harta alias kemiskinan. Jawab Ibnu Abbas: Istighfarlah!
Ketiga orang tersebut merasa dipermainkan oleh Ibnu Abbas. “Bagaimana mungkin tiga permasalahan yang berbeda kau beri solusi hanya dengan satu kata: “istighfarlah”

Ibnu Abbas menjawab: “silakan buka surat Nuh ayat 10-12.”:
“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Rabbmu sesungguhnya Dia maha pengampun. Niscaya pasti Dia turunkan hujan yang lebat kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”
Begitulah janji Allah istighfar akan menjawab tiga masalah berbeda. Jika kita mengimani ayat ini, dan mengamalkannya, niscaya hidup kita akan menjadi mudah dan lapang.

7. Mengajarkannya dan mendakwahkannya
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi. Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

Salah satu sarana menjaga hafalan Qur’an adalah mengajarkan nya kepada orang lain. Secara tidak langsung kita akan mengulang-ulang bacaan kita ketika mengajarkannya. Otomatis ini merekam kembali dan membuat memori semakin terjaga baik dari kemungkinan lupa.

Mengajarkan Qur’an seperti menanam pohon kebaikan yang akarnya menancap kuat dan batangnya menjulang ke langit, daunnya lebat dan buahnya manis bermanfaat sehingga menyenangkan dan bermanfaat bagi orang banyak.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (Pohon itu) menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25)

Di Pakistan yang termasuk negara berkembang seperti di Indonesia, rakyatnya hidup dekat dengan Qur’an, harga daging dan susu terjangkau oleh daya beli masyarakat miskin, setiap tiga rumah ada satu penghuni yang hafal Qur’an. Negeri itu penuh berkah dari Qur’an yang dipegang teguh oleh penduduknya.

Bandingkan dengan Indonesia yang kaya raya bagai zamrud di khatulistiwa. Allah anugerahkan lautan yang luas, dengan ribuan pulau yang subur. Kata Koes plus ”Bukan lautan hanya kolam susu… tongkat dan kayu jadi tanaman…”
Namun bencana datang silih berganti, gempa, banjir, tsunami….oooohhh.
Penduduknya jauh dari Qur’an, banyak melakukan maksiat, hingga kemiskinan menyebabkan para wanita jadi TKW. Para suami jadi TKI mereka mengadu nasib tanpa perlindungan dan kepastian. Akibatnya anak- anak mereka tak terurus dan terdidik dengan baik.

Semoga tulisan ini memberi semangat kepada kita agar kembali bergaul dan bersahabat dengan Qur’an.

Nah inilah tujuh cara kita bersahabat dengan Qur’an supaya kita menjadi bagian dari para sahabat Qur’an yang akan mendapat syafaat di hari yang anak dan harta tidak  bermanfaat, kecuali amal shalih yang melekat dalam hidup yang singkat, di dunia yang menipu dan memikat, para hamba yang terjerat, hingga menyesal di akhirat, azab Allah melaknat, bagi orang yang maksiat.

Disarikan dari ceramah Ramadhan DR. Khairan M Arief MED di masjid Miftahul Jannah Jati Bening Dua tahun 1433 H.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/02/02/45693/tujuh-cara-bersahabat-dengan-al-quran/#ixzz2s8Z9Gx47