Senin, 26 Agustus 2013

Pentingnya Berdakwah kepada Allah

Berdakwah kepada Allah termasuk ketaatan dan pendekataan diri kepada-Nya yang paling agung, dan karena inilah Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar berdakwah kepada-Nya.

Perintah Berdakwah dalam Al-Qur`an
 
Banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan tentang pentingnya berdakwah kepada Allah dan keutamaannya, di antaranya adalah:
 
1. Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah, 'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah di atas ilmu (hujjah yang nyata). Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'." [Yuusuf:108]
 
2. Allah berfirman,
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." [An-Nahl:125]
 
3. Allah berfirman,
وَلاَ يَصُدُّنَّكَ عَنْ ءَايَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah." [Al-Qashash:87]
 
4. Allah berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'." [Fushshilat:33]
Berdakwah kepada Allah adalah ucapan yang terbaik, yang tentunya harus dilandasi dengan ilmu bukan dengan kebodohan ataupun semangat belaka, serta apa yang didakwahkannya harus diamalkan dalam kehidupannya.
 
5. Allah berfirman,
وَالَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ
"Dan orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nashrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali'." [Ar-Ra'd:36]
 
6. Allah berfirman,
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلاَ يُنَازِعُنَّكَ فِي الأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ
"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." [Al-Hajj:67]
 
7. Allah mengisahkan tentang ucapan orang yang beriman dari pengikut Fir'aun ,
وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ. تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ
"Hai kaumku, bagaimanakah kalian, aku menyeru kalian kepada keselamatan, tetapi kalian menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kalian menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kalian (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?" [Ghaafir:41-42]
 
8. Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
"Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi." [Al-Ahzaab:45-46]

Perintah Berdakwah dalam As-Sunnah
Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah sangat banyak, di antaranya,
1. Dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshariy Al-Badriy radhiyallahu 'anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
"Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no.1893)
 
2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثَمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
"Barangsiapa yang menyeru/mengajak (orang lain) kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala-pahala dari orang-orang yang mengikutinya, yang hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapat dosa seperti dosa-dosa dari orang-orang yang mengikutinya, yang hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim no.2674)
 
Dua hadits ini menerangkan bahwasanya semakin banyak orang yang mengikuti ajakan kita kepada petunjuk maka semakin banyak pula pahalanya. Tentunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya adalah orang-orang yang paling banyak pahalanya karena betapa banyaknya orang-orang yang mengikuti petunjuk yang telah disampaikan oleh mereka sampai hari kiamat.
 
Demikian juga orang-orang yang mengajak kepada kesesatan dari kalangan Khawarij, Mu'tazilah, Murji`ah, Syi'ah/Rafidhah dan kelompok sempalan lainnya, maka mereka akan mendapat dosa seperti dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya. Tentunya pendiri kelompok tersebut adalah yang paling banyak dosanya.
 
Kebaikan Ahlus Sunnah terhadap Ahli Bid'ah
Tidaklah heran kalau kita mendengar salah seorang Imam Ahlus Sunnah ketika mentahdzir ahli bid'ah, dia menyatakan, "Saya lebih baik daripada kedua orang tuanya, saya memperingatkan ummat agar jangan mengikuti kesesatannya, maka ketika orang-orang yang mengikutinya berkurang, berkuranglah dosanya. Sedangkan kedua orang tuanya membiarkan anaknya tetap dalam kesesatannya."
 
Untuk itu seharusnya kita bersyukur kepada Allah kemudian berterimakasih kepada para 'ulama yang dari masa ke masa senantiasa berusaha menjaga agama ini agar tetap murni sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Di antara penjagaan terhadap agama adalah dengan cara memperingatkan ummat Islam dari penyimpangan ahli bid'ah agar jangan sampai mereka mengikutinya.
 
Karena ahli bid'ah adalah orang-orang yang menikam dan merusak agama kaum muslimin dari dalam. Dan ini lebih berbahaya daripada serangan orang-orang kafir pada awal penyerangan mereka. Orang-orang kafir menyerang kita, dalam keadaan kita tahu dan sadar bahwa mereka adalah musuh kita, sehingga kita berusaha melawan dan mengusir mereka. Adapun ahli bid'ah maka mereka menyerang kaum muslimin dari dalam. Mereka merusak aqidah, manhaj, akhlaq, dan ibadah kaum muslimin dengan mengajarkan perkara baru (bid'ah) kepada mereka. Yang tentunya kebanyakan kaum muslimin tidak sadar kalau mereka sedang diserang. Dan yang bisa menyadarkan mereka -setelah hidayah dari Allah- adalah para 'ulama yang menjelaskan kesesatan dan penyimpangan ahli bid'ah tersebut. Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah kalau tidak berterima kasih kepada manusia.
 
Ketika kaum muslimin sudah mulai sadar dan meninggalkan pemahaman yang diajarkan oleh ahli bid'ah dengan kembali mengikuti manhaj ahlus sunnah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka berarti pengikut mereka (ahli bid'ah) tersebut semakin berkurang sehingga semakin berkurang pula dosa-dosa mereka. Dan ini tidak diragukan lagi adalah suatu kebaikan bagi mereka. Perhatikan dan renungkanlah wahai orang-orang yang memiliki pandangan!
 
Ahli bid'ah yang dibahas di sini adalah yang belum sampai keluar dari Islam, adapun ahli bid'ah yang sudah sampai kepada kekufuran dan mereka telah dinyatakan keluar dari Islam oleh para 'ulama seperti Jahm bin Shafwan, maka mereka tidak akan mendapat manfaat dari siapa pun dan mereka akan kekal di neraka, wal'iyaadzubillaah.
 
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua, kaum muslimin, agar memahami dan mengamalkan agama ini sebagaimana yang telah dipahami dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya, aamiin.
 
3. Dari Abul 'Abbas Sahl bin Sa'd As-Sa'idiy radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di waktu perang Khaibar, "Benar-benar aku akan menyerahkan bendera ini (komando perang) besok pagi kepada seseorang yang Allah akan memberikan kemenangan melalui kedua tangannya, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya."
Maka manusia pun (yaitu para shahabat) bermalam dalam keadaan mereka memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diberikan bendera tersebut. Ketika tiba pagi hari, mereka pun bergegas menuju Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, semuanya mengharapkan agar bendera itu diberikan kepadanya. Maka Rasulullah bertanya, "Di mana 'Ali bin Abi Thalib?" Para shahabat pun menjawab, "Ya Rasulullah, dia dalam keadaan sakit kedua matanya." Rasulullah berkata, "Bawa dia kemari." Maka 'Ali pun didatangkan ke hadapan beliau, lalu beliau meludahi kedua matanya dan mendo'akannya, maka 'Ali pun sembuh dari sakitnya sampai-sampai seakan-akan dia tidak terkena penyakit tersebut, lalu beliau menyerahkan bendera tersebut kepadanya.
 
Kemudian 'Ali bertanya, "Ya Rasulullah, apakah aku perangi mereka sampai mereka seperti kita?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Berjalanlah dan datangi mereka dengan tenang sampai engkau tiba di pelataran mereka, kemudian serulah mereka kepada Islam, dan beritahukan kepada mereka akan hak-hak Allah yang wajib mereka penuhi, karena demi Allah, seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta merah." (HR. Al-Bukhariy no.3498 dan Muslim no.2406)
Unta-unta merah adalah harta kekayaan yang paling mahal dan paling berharga, yang menjadi kebanggaan orang Arab pada masa itu.

Bahayanya Mengajak kepada Hizbiyyah
 
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
"Barangsiapa menyeru kepada selain Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan, dan barangsiapa menyeru kepada Allah tanpa idzin-Nya (tidak dengan cara yang syar'i) maka sungguh dia telah berbuat bid'ah, sedangkan kesyirikan itu adalah bid'ah dan seorang ahli bid'ah akan terjerumus kepada kesyirikan dan tidak didapati seorang ahli bid'ah pun kecuali padanya ada salah satu jenis dari kesyirikan... ." (Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim hal.453)
 
Oleh karena itulah, hendaklah seorang muslim berhati-hati dengan sepenuhnya kehati-hatian jangan sampai mengajak manusia kepada hizbiyyah (kelompok tertentu), golongan, partai tertentu atau kepada bid'ah, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyeru manusia kepada Penciptanya yaitu Allah Ta'ala dan dengan apa yang telah Allah syari'atkan bukan dengan kebid'ahan-kebid'ahan ataupun hawa nafsu.
Perhatikan dan pahamilah firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas serta perkataan Ibnu Taimiyyah tersebut!
Allaahumma arinal haqqa haqqaa warzuqnat tibaa'ah wa arinal baathila baathilaa warzuqnaj tinaabah, aamiin. Wallaahu A'lam.

Diambil dari kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid hal.200-202, dengan beberapa tambahan.

Sumber : http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/33.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar