Jumat, 08 Agustus 2014

MERAIH RIDHA ALLAH

Bismillaahirrahmanirrahiim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Saudaraku,  semoga selalu dalam berkah dan rahmat Allah.
Di awal pesan7menit ini, mari kita ucapkan, Segala puji hanya untuk Allah, karena segala puji terhimpun hanya untuk Dia, Dialah yang Maha Suci dan Dialah Yang Maha Besar dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Kepada Nya kita tunduk dan selalu melaksanakan semuan perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya., sebab Dia tiada lalai dari apa yang kita kerjakan. Sholawat  dan  salam semoga tercurah kepada junjungan kita nabi  Muhammad Saw, juga untuk seluruh keluarganya, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya sampai akhir zaman.
Saudaraku kaum muslimin, yang selalu dalam ridha Allah
Setiap hari, bahkan setiap detik kita mengharapkan ridha Allah. Tetapi ridha Allah tidak datang begitu saja dia harus diraih baik  dengan hati yang  paling  dalam, dengan lisan, dan dengan amalan kebajikan.  Mengharap  ridha Allah adalah desah dzikir setiap orang muslim. Ridha Allah  adalah pakaian seorang mukmin yang melekat pada tubuhnya dalam kondisi apapun yang menimpa pada dirinya.  Ridha diartikan sikap menerima atas pemberian dan anugerah yang diberikan oleh Allah dengan di iringi sikap menerima ketentuan syariat Islam secara ikhlas dan penuh ketaatan, serta menjauhi dari perbuatan buruk (maksiyat), baik lahir ataupun bathin.  Dalam hal meraih keridhaan,  Allah swt berfirman, 

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
 (Qs Al Baqarah (2) : 207)
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, memberi gambaran tentang seseorang yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata untuk meraih ridha Allah dalam seluruh totalitas kehidupannya. Dikisahkan seorang sahabat Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi yang rela  mengorbankan   seluruh    yang dimilikinya karena tekanan kaum Quraisy agar ia diperkenankan untuk berhijrah ke Madinah. Shuhaib dihalangi oleh para pemuka Quraisy untuk berhjrah melainkan bila ia menyerahkan seluruh hartanya kepada mereka tanpa tersisa sedikit pun. Dengan tanpa ragu-ragu, ia meninggalkan hartanya di Mekah semata-mata mengharapkan ridha Allah dari perbuatan hijrahnya yang mulia tersebut. Setelah sampai di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah, beliau memujinya dengan ungkapannya yang masyhur sungguh telah beruntung Shuhaib dalam riwayat lain: sungguh telah beruntung perniagaannya.
Masih dalam konteks ayat ini, Ar-Razi mengisahkan bahwa Umar bin Khattab pernah mengutus pasukan dan berhasil mengepung benteng pertahanan mereka. Karena tidak mampu menembus benteng tersebut, tiba-tiba seseorang berinisiatif untuk menerjunkan dirinya di tengah-tengah musuh untuk membuka pertahanan mereka sampai akhirnya orang tersebut menemui ajalnya. Setelah pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Umar bin Khattab atas keberanian sahabat tersebut, beberapa pasukan mengomentari apa yang dilakukan oleh orang tersebut yang dianggap membinasakan diri sendiri. Umar bin Khattab menampik pandangan mereka dan mengatakan: “Kalian telah berdusta dengan ucapan kalian itu. Semoga Allah merahmatinya”. Kemudian Umar membaca ayat ini untuk membenarkan perbuatan yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut.
Dua kisah diatas adalah kisah para sahabat, meskipun tidak sama dengan kondisi sekarang tetapi paling tidak kita dapat merenung begitu hebatnya untuk meraih  keridhaan Allah,  sehingga harta dan bahkan jiwanya siap dikorbankan. Mereka berkeyakinan dengan meraih ridha Allah, segala kebaikan, kemuliaan dan keberkahan hidup akan senantiasa menyertainya dan Allah akan senantiasa hadir dengan sifat Penyantun yang ditegaskan oleh kalimat terakhir ayat ini:
“Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya (yang rela mengorbankan segalanya untuk Allah)”
Para ulama banyak membahas tentang ridha, salah satunya Yahya bin Mu’adz bahwa beliau pernah ditanya, “ Kapankah seorang hamba mencapai kedudukan ridha? Maka dia menjawab,” Jika dia menempatkan dirinya pada empat landasan tindakan Allah kepadanya, lalu dia berkata, “ (1) Jika Engkau memberiku, aku menerimanya. (2) Jika Engkau menahan pemberian kepadaku, maka aku ridha. (3) Jika Engkau membiarkan aku, maka akan tetap beribadah. (4) Jika Engkau menyeruku, maka aku memenuhinya.
Untuk memantapkan diri sekaligus mengharapkan ridha Allah Swt, Rasulullah Saw sangat  menganjurkan untuk berdzikir, di dalam sebuah hadits dari Abu Salmah r.a khadim Nabi saw,  sesungguhnya ia berkata., “ Rasulullah Saw bersabda,” Barangsiapa membaca pada waktu pagi dan pada sore hari,  
Radhitu billahi rabba), wabil islami dina(n) wabi Muhammadin nabiyyaw wa rasulaa(n).
  Aku ridha Allah sebagai Rab ku, dan Islam sebagai  agamaku,  dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku) wajiblah Allah meridhai dia (HR Abu Dawud, Turmuzi, Nasai dan al Hakim)
Saudaraku yang dimuliakan Allah.
Dzikir ini adalah pernyataan sikap setiap muslim, perlu direnungkan dan diwujudkan. Renungan yang dapat diperpanjang seakan-akan lautan tidak bertepi dan diwujudkan dalam amal setiap denjut jantung dan setiap hirupan nafas sampai nafas yang terakhir. Mari kita coba  renungkan :
Ridha Allah mengandung arti ridha mencintaiNya semata, ridha menyembahnya semata, takut dan berharap kepadanya, merendahkan diri kepadanya, beriman kepada pengaturan dan menyukainya, bertawakkal dan meminta pertolongan kepada-Nya, dan ridha kepada apa yang telah diperbuatnya, maka inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah. Hal ini sesui dengan firman Allah Swt. “.
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
(Qs Al Bayyinah : 8)
Ridha kepada Allah, menurut para sufi; mengandung makna yang luas, diantaranya: Tidak menentang pada qadha dan qadar Tuhan, menerimanya dengan senang hati, mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya hanyalah perasaan senang dan gembira, merasa senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat, tidak meminta surga dari Tuhan dan tidak meminta supaya dijauhkan dari neraka, tidak berusaha sebelum turunnya qadha dan qadar, tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya, bahkan perasaan senang bergelora di waktu cobaan atau musibah datang.
Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimis,
lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang terjadi semua sudah ada dalam rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan.
Ridha dengan Islam sebagai agama artinya apa saja yang di dalam Islam, baik berupa perintah dan larangan, maka sesungguhnya kita meridhainya secara keseluruhan, tanpa ada rasa rasa keberatan sedikitpun dalam diri kita untuk menerimanya, melainkan kita pasrah menerima nya dengan hal tersebut dengan kaaffah. Allah Swt berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaaffah dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian”. (Al-Baqarah: 208)
Berislam secara kaaffah seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat ini berarti melaksanakan Islam secara keseluruhan, tidak sepotong-potong mencari yang mudah dan meninggalkan yang sukar. Kemudian harus meninggalkan segala bentuk langkah syaitan secara totalitas juga. Terbawa dan hanyut dalam salah satu dari jerat syaitan akan mengurangi totalitas keislaman kita. Karenanya, mengikuti langkah-langkah syaitan dimaknai oleh para ulama dalam arti setiap perbuatan maksiat kepada Allah swt.
Ridha kepada nabi Muhammad Saw sebagai nabi artinya kita harus beriman kepadanya, patuh kepada-nya, dan pasrah kepadanya, dan hendaknya beliau Saw harus kita  pentingkan daripada diri anda sendiri. Untuk itu seandainya beliau Saw masih ada, kemudian ada sebuah anak panah yang melesat mengarah padanya, kita wajib melindunginya meskipun mengorbankan nyawa kita sendiri. Kita rela mati membelanya. kita ridha dengan tuntunan dan sunnahnya. Jika ridha kepada sunnahnya, berarti kita tidak mau merujuk kepada siapapun, kecuali hanya kepadanya.  Allah Swt berfirman,
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-sau-dara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan ru-mah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
(Qs At Taubah : 24)
Ridha kepada Allah, ridha kepada Islam dan ridha kepada Nabi Muhammad merupakan satu kesatuan yang utuh. Tidaklah mungkin ridha kepada Allah tetapi tidak berislam dan bernabikan Muhammad seperti laiknya orang Nasrani. Begitu juga ridha dengan Islam tetapi tidak patuh Allah dan mengangkat nabi lain seperti kaum Ahmadiyah. Tidaklah mungkin ridha kepada Rasulullah tetapi masih meragukan perintah dan larangan Allah swt yang termuat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
Demikianlah antara lain sikap kita keseharian yaitu hati dipenuhi ridha kepada Allah, kepada Islam dan kepada nabi Muhammad. Bagi para sufi sampai menyatakan walaupun berdo’a di syariatkan oleh agama, tidak merasa pantas lagi meminta ini dan itu kepada Allah. karena mereka mencapai taraf kerohanian yang tinggi, Tetapi kita terus berdo’a kepada Allah tidak putusnya doa kebaikan hiduo di dunia dan kehidupan di akhirat.
Saudaraku sebelum aku akhiri pesan7menit ini mari kita simak hadits Qudsi yang berhubungan dengan keridhaan.  “Allah berfirman kepada Rasul Saw: Barangsiapa yang tidak ridha atas segala hukum perintah, larangan, janji qadha dan qadar-Ku, dan tidak bersyukur atas segala nikmat-nikmat-Ku, serta tidak sabar atas segala cobaan-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku yang selama ini engkau jadikan sebagai atapmu, dan carilah Tuhan lain selain diri-Ku (Allah)”.
      Wallahu ‘alam bish shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar