Minggu, 06 Juli 2014

"Baca Qur’an? Yang Penting Itu Pengamalan!" Benarkah ?

“Membaca Al-Qur’an? Yang penting bisa memahami dan mengamalkannya.”
“Percuma tiap hari baca Qur’an tapi nggak ngerti artinya. Percuma hafal Al-Qur’an tapi nggak ngamalin isinya.!”
“Lebih baik membaca terjemahannya daripada cuma membaca Al-Qur’an tapi tidak mengerti artinya.”
“Orang baca Al-Qur’an tapi tidak paham isinya itu kayak keledai bawa kitab (lihat QS. Al-Jumu’ah : 5)”
***


Ungkapan-ungkapan di atas adalah ungkapan yang sangat populer dan sangat sering saya dapatkan selama mengajar Tahsin Tilawah di LTQ Al-Hikmah. Saya tidak tahu jumlah pastinya, tapi yang jelas banyak sekali orang Islam di Indonesia yang memiliki cara pandang seperti itu.


Kalau dibaca sekilas, keren juga. Kayaknya sih masuk akal. Sesuatu yang menekankan pemahaman dibanding sekedar membaca tapi tidak mengerti. Seorang teman dulu menganalogikannya dengan tukang jualan di toko buku. Dia hafal semua judul buku, pengarangnya, penerbitnya, tapi tidak membaca isinya. Bertahun-tahun dia menjaga toko buku, atau jualan buku, tapi tetap saja tidak seperti itu. Ilmunya tidak bertambah kecuali koleksi nama-nama.

Saya juga jadi ingat dengan cara pandang saya dulu waktu masih di pesantren. Cara pandang yang diajarkan oleh beberapa (tidak semua) guru tentang Al-Qur’an. Sampai-sampai kalau ada pelajaran Tajwid, seorang guru saya bilang, “Udah itu mah gampang. Dibaca-baca sendiri juga bisa. Yang penting Bahasa Arabnya kuat. Nanti akan mudah pahamnya.” Dalam satu semester, pelajaran Tajwid hanya diisi beberapa kali saja. Lebih sering digantikan dengan pelajaran Ajurumiyah atau tashrif-an.

Beberapa waktu yang lalu, saya ketemu dengan seorang murid saya waktu SMP yang sekarang belajar di pesantren. Dia bercerita, katanya sih menurut gurunya (redaksi menggunakan bahasa saya), “Al-Qur’an mah gampang, Pak. Nanti juga ngerti sendiri. Baca belakangan. Kalo sudah paham bahasa Arab, baru ke situ.”

***

Sebuah Catatan

Ada sebuah hadits yang dapat meluruskan cara pandang kita di atas. Hadits yang sangat populer dan seringkali kita baca dan kita kutip di banyak tempat:


Yang artinya, "Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an akan mendapat satu kebaikan, dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif-Laamm-Mim satu huruf; tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (H.R. Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan shohih)

Kita semua paham bahwa hadits tersebut menggambarkan tentang pahala yang akan kita dapat ketika kita membaca Al-Qur’an. Tapi ingatlah bahwa Rasulullah s.a.w. mengutip ayat alif-laamm-miim sebagai contoh, bukan yang lain (basmallah, misalnya)! Padahal Kita tahu bahwa lafazh alif-laamm-miim tidak kita ketahui maknanya. Bahkan kebanyakan ulama dalam menafsirkan lafazh alif-laamm-miim ini selalu dengan kata:

وَاللهُ أَعْلَمُ بِمُــرَادِهِ

yang artinya kira-kira, “Hanya Allah yang mengetahui makna ayat tersebut.”

Lalu kenapa lafazh itu yang jadi contoh perumpamaan?

Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil, di antaranya:

Pertama, cara membaca Al-Qur’an sangat unik. Berbeda dari membaca bahasa Arab biasa. Di dalam lafazh alif-laamm-miim ada bacaan ghunnah dan mad lazim, yang tidak akan mempengaruhi makna ayat meskipun tidak diterapkan, tapi tetap saja harus dibaca seperti itu. Ulama menetapkan hukum lazim atau wajib dalam mad di lafazh alif-laamm-miim. Jika kita sengaja membaca pendek, padahal harus 6 harokat, maka lahn(kesalahan)nya adalah jaliy(besar). Tidak boleh menyengajakan memendekkan bacaan tersebut.

Artinya, tidak cukup hanya belajar bahasa Arab untuk membaca Al-Qur’an dengan benar. Karena orang Arab saja tetap harus belajar Tajwid kalau mau membaca Al-Qur'an dengan benar, sesuai dengan cara Rasulullah s.a.w. membaca Al-Qur'an.

Kedua, perumpamaan tersebut mengajarkan kepada kita agar tetap membaca Al-Qur’an, mengerti atau tidak ayat yang kita baca. Karena membaca itulah satu-satunya pintu memahami Al-Qur’an. Bahkan ketika membaca lafazh alif-laamm-miim, yang tidak kita pahami artinya, pahalanya tetap dihitung huruf perhuruf. Sepuluh kebaikan perhurufnya.

Ketiga, perumpamaan tersebut juga mengajarkan kepada kita, bahwa setelah terus membaca dan membacanya, kita jadi terdorong untuk berusaha memahami ayat yang kita baca. Kunci ilmu adalah dengan membaca. Bahkan kata di ayat pertama yang turun kepada Rasulullah s.a.w.pun adalah:

“Bacalah!”

Apa yang harus kita baca?

Tentu saja Al-Qur’an!

Allah berfirman di dalam surat An-Naml [27] ayat 92:



Yang artinya, “Dan supaya aku (Rasulullah s.a.w.) membacakan Al Qur'an (kepada manusia).”

Logika yang Terbalik


Logika berpikir di atas adalah salah dan terbalik. Urutannya bukanlah mengamalkan -– memahami –- membaca -- menghafal, tapi membaca –- menghafal –- memahami -- mengamalkan.

Bahkan keempatnya harusnya dapat berjalan beriringan.

Ingatlah baik-baik, bahwa di dalam cabang ilmu apapun, kunci memahami adalah dengan membaca. Dan hanya dengan membacalah seseorang akan dapat membuka rahasia ilmu pengetahuan.

Jangan samakan Al-Qur’an dengan yang lain! Bahkan dengan hadits sekalipun. Membaca hadits, misalnya, tidak akan berpahala meskipun dibaca seribu kali jika kita tidak memahami artinya dan tidak menerapkan isinya. Tapi tidak dengan Al-Qur’an!

Khusus untuk Al-Qur’an, membacanya akan bernilai pahala. Lancar atau belum lancar. Mengerti atau belum mengerti. Bisa mengamalkannya ataupun belum mampu!

Seperti membaca Alif-laamm-miim. Setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan!

Dan perlu kita ingat:

Kalau membacanya saja tidak bisa, bagaimana mungkin mengerti artinya?

Kalau membacanya saja malas, bagaimana mungkin mau mengamalkannya?

Kalau tidak berusaha menghafalnya, bacaan apa yang akan dibaca dalam sholat?

Dan kalau kita tidak mau membaca Al-Qur’an, Rasul mana yang kita jadikan teladan?

Yang perlu diluruskan…

Membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Bernilai pahala dan termasuk ibadah yang utama. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda pada orang-orang yang konsisten menjalankannya.

Menghafal Al-Qur’an adalah keutamaan. Rasulullah, semua sahabat beliau, semua tabi’in dan orang-orang sholeh sepanjang masa senantiasa melakukannya. Semoga Allah menjadikan para penghafal Al-Qur'an sebagai keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.

Memahami Al-Qur’an adalah kemuliaan. Membuka pintu ilmu pengetahuan tentang dunia dan akhirat. Semoga Allah menjadikan mereka sebagai ulama dan fuqaha panutan ummat manusia. 

Mengamalkannya adalah kewajiban. Karena itulah tujuan utama dari Al-Qur’an diturunkan. Semoga orang-orang yang konsisten di dalamnya menjadi para pejuang dan penegak kalimat Allah di muka bumi.

Dan semoga kita semua menjadi bagian dari Barisan Para Penjaga Al-Qur'an, menjadi orang-orang terbaik di zaman ini karena menjadi pencinta kalamullah. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
Yang artinya, “Dan keutamaan firman Allah (Al Qur’an) dibandingkan seluruh ucapan selainnya adalah seperti keutamaan Allah atas makhlukNya.” (H.R. Tirmidzi)

(Abu Qawwam -- RQNF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar