Sabtu, 14 September 2013

MERENUNGI MAKNA SAKIT



Oleh : Ustadz HM. Arifin Ilham

Sakit, sebagaimana juga setiap ujian bukan menguji ketangguhan dan kemampuan seseorang. Sebab, Allah SWT berikan sakit kepada seseorang sudah sesuai takaran dan daya tahannya. Ia sejatinya menguji kemauan untuk memberi makna. Maka, bagi mereka yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang selalu sehat takjub.

Sakit adalah jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yang lebih dari batas (disebut dalam sebuah hadist selama 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi teladan semesta. Dan, atas kenyataan sejarah tersebut, hari ini cobalah bercermin kepadanya.


Hari ini pula kita bisa bercermin kepada sosok-sosok mulia yang pernah juga sakit. Sakit, yang di ujung penggal kehidupan mereka yang ditemukan adalah kemuliaan serta terus bertambah derajat kemuliaannya di mata Allah SWT.

Imam As Syafi'i wasir karena banyak banyak duduk menelaah ilmu, Imam Malik lumpuh tangannya dizalimi penguasa, Nabi tercinta kita juga pernah sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup melalui celah gigi yang patah di Perang Uhud.

Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan juga di mata sejarah manusia ?   


1.       Sakit itu zikrullah.
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

2.       Sakit itu istighfar.
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga, lisan terbimbing untuk mohon ampun.

3.       Sakit itu tauhid.
Bukankah saat saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thayyibat yang akan terus digetar ?

4.       Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi. Menghitung-hitung bekal kembali.

5.       Sakit itu jihad
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.

6.       Sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi, dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah terkena sakit.

7.       Sakit itu silaturahim
Saat menjenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra?

8.       Dan pada akhirnya, sakit membawa kita untuk selalu ingat mati.
Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya adalah pendongkrak derajat ketakwaan.

Karena itu, mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit.
Wallahu a’lam.

Sumber : Materi Kuliah Subuh yang disampaikan oleh Bapak Drs. A. Muis di Masjid Nurul Hikmah Jl. Darmapala Palembang tanggal 15 September 2013.



         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar